cerpen lum jadi

Aq posting ini dengan sangat terpaksa. kecerobohan diriku menghilangkan naskah asli cerpen ini di kelas membuat aku khawatir bakal ada yang ngejiplak (walau gag bagus cerpennya, tp sapa tw?) karyaku.
Makanya tar lo ada yang ngaku buat ni cerpen,,, aq puny bukti dengan nge-posting ini cerpen ke blog aq. buat siapa aja yang nemuin naskah cerpen aq di ruang kimia... aq benci moving class.... jangan diapa-apain. dibuang ajah!!! biar gag da yg bca,, aman deh!


???
Semarang, 18 November 1995
Falisha kecil begitu riang, begitu hidup! Dia punya kegembiraan anak-anak. Dee, kau sudah menjadi temanku bertahun-tahun. Aku begitu senang membagi Falishaku denganmu, apalagi semenjak ayahnya pergi, kau tahu ia kesepian. Hanya aku yang di dekatnya. Dee, bagaimana menurutmu baju biru laut yang kujahitkan untuknya? Kurasa ia akan terlihat begitu manis mengenakannya. Dee, hari ini Falisha kecilku begitu bahagia. Ya, kami pergi jalan-jalan. Tak jauh memang, tapi Falisha begitu bergembira mengujungi pamannya yang tinggal di Semarang. Apalagi saat kami menatap laut lepas. Ada kedamaian di sana, di mata Falishaku! Kerjap matanya tak henti bergerak memandang langit dan laut yang seolah menyatu. Besok pagi, kami pulang ke Jogja. Ingin aku lebih lama di sini, tapi pekerjaan menunggu. Kami tak punya banyak waktu.
NB : hari ini Falisha memberimu sebuah ciuman manis. Semoga kau suka, Dee!
*****
Jogja, 20 Desember 1995
Falishaku malang. Diagnosa sementara selama rawat inap ternya salah. Ia bukan menderita pneumonia. Ia memang sempat menggigil hebat di hari pertama selama 15 menit tapi sesudah itu kondisinya membaik. Aku terkejut mendapati pendengarannya berkurang tajam. A seolah tak mendengarku. Di hanya diam dan terus menangis. Falishaku sekarang bukan Falisha yang dulu ceria. Seminggu lalu aku berkonsultasi dngan DSA ahli syaraf. Ia tak begitu banyak menerangkan dan menganjurkan agar Falisha mengikuti tes BERA (Brainstem Auditory Test). Dan hasilnya?
ABNORMAL, Kerusakan total endochlea berat.
Tak tampak gelombang V pada stimulasi 96 dB (severe deafness)

Aku tak paham dengan hasil tes itu. DSA ahli syaraf tempatku berkonsultasi mengatakan bahwa Falisha mengalami kerusakan pendengaran total 100% dan menyarankan dilakukan MRI untuk mengetahui kerusakan syarafnya. Aku tak bisa membayangkan kebingungan yang dalami Falisha. Seperti kau tahu, ia begitu lancer berceloteh dan bermain dengan peluitnya. Tapi, kini… tak ada lagi suara di dalam dirinya!
*****
Lagi. Pagi ini Ibu membawakan kotak makan siang hijau-biru milikku. Aku mengintip saat Ibu berbalik mengambil tempat minum yang terlupa. Aku melihat tanggal. Tahun ini aku masuk SD, begitu Ibu menerangkan padaku. Aku benci tak bisa mendengar suaranya. Terkadang aku ingin memukul-mukul sesuatu, tapi Ibu selalu mengampiriku dan memelukku. Aku tak tahu kenapa ia memelukku. Aku tak tahu kenapa juga matanya merah. Aku sudah lama mengenal merah. Bajuku merah. Bukuku merah. Dan aku punya sepeda dengan cat merah juga! Dan sekarang mata ibuku juga merah, tapi aku tidak suka!
*****
Teman. Mana temanku? Aku hanya duduk-diam-sendiri. Ibu gemuk berbaju merah (merah lagi) melihatku. Aku diam dan tetap duduk.
*****
Jogja, 1 Desember 2004
Hari ini aku ulang tahun, Zee! Ada sebentuk kado di atas meja belajarku. Pasti Ibu. Tentu saja, siapa lagi? Aku hanya tinggal dengan Ibu dan hanya punya teman Ibu. Zee, kau tahu dari dulu aku tak punya teman. TAK PUNYA TEMAN! Aku tuna rungu, kata Ibuku dalam bahasa isyarat. Hanya ibu yang mau repot-repot belajar bahasa isyarat untukku sejak benar-benar tak ada suara dalam diriku. Aku lupa kapan, tapi sepertiya sudah lama sekali suara-suara menghilang, menjauh dariku. Mereka pasti membenciku. BENCI SEKALI. Sampai-sampai mendekatpun enggan.
Zee, tadi pagi ada ulangan Biologi di kelas Pak Darwis. Pagi ini juga seorang temanku mendekat (tumben ada yang mau duduk denganku). Aku tak hafal nama-nama teman satu kelas, jadi aku melirik sampul buku catatan yang bertuliskan sebuah nama. Apa benar itu namanya? Kayyis? Entahlah! Dia tersenyum. Aku? Terpaksa harus tersenyum. Kurasa aku terlihat seperti alien atau apalah, karena sejak aku duduk dengan Kayyis banyak mata memandangku. Sebelumnya? Aku hanya seonggok tubuh tak bernyawa. Tahu kenapa? Karena aku tak punya suara. Biarlah…
Catcil : Zee, ibu memberiku sebuah novel baru. Aku belum membacanya, mungkin minggu depan aku akan menceritakannya untukmu. Selamat tidur, Zee!
*****
Jogja, 2 Desember 2004
“Si Kuping Robot”
“Si Kuping Robot”
“Si Kuping Robot”
Aku “Si Kuping Robot”. Temanku menuliskannya di selembar kertas yang ditaruh di atas mejaku. Kayyis marah dan mencari orang yang mengejekku. Kulihat ia begitu menakutkan saat marah. Tapi ia baik. Sementara aku? Aku mencoba menenangkan diri dan berpikir tak ada salahnya memakai alat bantu dengar di dalam kelas hingga aku dijuluki “Si Kuping Robot”. Meski kurasa memang tak ada gunanya aku memakai alat ini. Tapi aku hanya ingin melihat ibu senang. Tak ada buruknya, kan?
Catcil : Memang aku “Si Kuping Robot”. Jadi kenapa aku harus tersinggung?
*****
Sang guru komat-kamit. Itu menurutku. Tapi sepertinya banyak suara-suara tinggi yang ia keluarkan. Dari caranya bernafas yang tak beraturan dan membuatku mual, dia menjengkelkan! Dan BOROS! Seharusnya dia sadar, aku begitu menginginkan ada suara-suara lagi dalam diriku. Begitu banyak kata yang kutuliskan, tak satupun terucap. Semuanya tersusun dalam paragraph-paragraf yang tak bertuan. Ya, tak bertuan. Aku membiarkannya teronggok di buku-buku yang memenuhi laci bawah mejaku. Aku benci mengakui, aku tak bisa membiarkan orang lain mengetahui isinya.
Kayyis menuliskan sesuatu di kertasku. Sekarang, aku tak lagi menggunakan alat Bantu dengar lagi. Ibuku mengadu ke kepala sekolah atas insiden “Aku si Kuping Robot”. Kayyis memberi tahu Ibuku. San sekarang Kayyis temanku, begitu katanya. Punya teman seperti pudding dan es krim membasahi kerongkonganku. Aku tahu, punya teman enak. Dia pendiam, mungkin karena ia duduk denganku yang “terdiam” jadi ia pun pendiam.
Aku menatap coretan tinta biru di selembar kertas kecil. “Ada waktu minggu ini?”
Aku:
Kayyis menulis lagi:”Bagaimana?”
“Ada”, tulisku. “Ada sesuatu hal yang igin kutunjukkan padamu”, tulisnya lagi.
Aku:”?”
“Nanti!” Kayyis tersenyum. Aku suka senyumnya. Manis, seperti gulali yang mengocok perutku. Aku tak sabar lagi. Kupandangi Kayyis, tapi ia sudah kembali menekuni buku di depannya. Aku diam, kuras aku juga harus serius pelajaran kali ini. Satu minngu lagi ada ulangan. Aku tak mau ada yang mengalahkanku! Kata guruku, walau aku “diam” tapi nilai-nilaiku menunjukkan kalau aku tak sekedar diam. Semoga saja benar!
*****
Jiwaku patah,
Mencoba mereka puzzle pusaraku seorang diri
Sayap-sayap merendah
Menaungi redup sinar mata
Seolah dunia terendam dalam legam hitam
Aku terpejam…

Aku terkejut. Seseorang telah duduk di sebelahku. Harusnya aku menurut apa yang dipesanka Ibu. Jangan keluar sendiri tapa alasan yang jelas. Tapi aku butuh udara segar. Di tempat ini aku menapatkan semua yang kuinginkan. Harum pinus dan tanah basah membuatku merindukan ayah. Dalam bayanganku ayah adalah tanah. Tanah tempatku berpijak. Aku tak mengenalnya lama dan sudah berapa tahun yang lalu ia pergi. Kini aku dengan ibu, pohon pinusku! Ya, ia sepeti pohon yang menaungiku sekalipun aku hanya merepotkan dirinya.
Ya, ampun! Kenapa aku jadi ngelantur?
Gadis itu menggeser tubuhnya, mendekat padaku. Gawat! Ibu melarangku berkenalan dengan orang asing. Pasti sepertiya konyol, tapi laranga yang lebh tepat ditujukan untuk anak SD kelas 4 atau di bawahnya ni masih kupatuhi. Lebih mudah mengikuti sesuatu yang tak ingin kau lakukan.
Tapi, tunggu! Dia komat-kamit. Basa-basi perkenalan, mungkinkah? Aku kan tidak bisa mendengar!
Dia seolah menungguku. Tapi mulutku masih terkatup rapat. Dia? Tersenyum!
Hei, senyum itu seperti senyum gulali Kayyis. Aku mungkin bermimpi, tak ada yang mau berteman denganku kecuali Ibu dan Kayyis!
*****
Sore ini aku berjalan tergesa-gesa menuju taman. Wening menungguku. Ya, Wening adalah orang yang tempo hari aku temui di taman itu juga. Ups, aku lupa. Hari itu terlewat beberapa bulan yang lalu. Kami sekarang teman!
Bahagianya punya tiga teman. Satu di rumah, satu di sekolah, dan kini tambah satu lagi. Hore! Nyaris aku melompat, tapi melompat membuatku semaki ingin berteriak. Dan sayangnya aku akan kecewa karena nyatanya aku tak akan bisa berteriak.
Wening duduk di atas rumput yang menghampar seperti karpet hijau kami di rumah. Sweeter abu-abu dan jilbab putih, ciri khas yang melekat di ingatanku seperti permen karet yang tak mau lepas dan terus rekat. Tangannya menopang sebuah buku yang terbuka. Aku tak tahu apa yang ia baca. Barangkali novel? Dia begitu bersemangat ketika membaca novel. Ia menunjukkan sebuah nama yang aku belum pernah tahu sebelumnya. Jostein Gaarder, siapa dia? Aku baru membaca setengah dari bukunya yang berjudul “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”. Tak ada komentar.
Sebelumnya aku enggan membaca karya orang. Aku takut mngambl ide mereka. Aku suka menulis. Tapi yang lebih aku suka adalah merekam diriku dalam kata agar semua orang dapat mendengarku. Tapi semenjak sore itu, aku kerap dibawakan buku oleh Wening. Ingin tahu apa yang membuatku tertarik? Namanya! Namanya tercantum dalam silsilah keraton atau kesatria-kesatria Jawa. Layaknya nama “Wening” ditujukan untuk laki-laki, tapi nyatanya ia perempuan!
“Sudah lama?” tulisku dalam buku kecil yang kubawa.... bersambung

0 comment: