FLP-Esai Motivasi

Filosofi Nama dan Sebuah Cita-Cita

Ratna Amalia Solikhah



Filosofi Nama

Apalah arti sebuah nama? Itu yang sering terlontar dari mulut orang-orang yang ‘membeo’ ucapan seorang penyair yang begitu dipuja. Tapi nama bagi orang Jawa adalah doa! Tapi tentunya tidak hanya orang Jawa yang mempunyai persepsi demikian. Nama adalah doa, memang benar!
Tepat 1 Desember 17 tahun silam aku lahir. Hanya bayi biasa dan tentu belum punya nama. Nama yang sekarang tersemat padaku bukanlah nama pemberian orang tua, melainkan pemberian paman. Ratna Amalia Solikhah, itu namaku. Ratna artinya bunga, sementara Amalia Solikhah merupakan satu frasa yang tak bisa berdiri sendiri. Panjang untuk menjelaskan arti namaku, tapi arti namaku secara sempit adalah “bunga dari amal baik”. Dan itulah yang ingin kuwujudkan sekarang ini, dengan bergabung dalam FLP tentunya.
Aku punya jemari yang melekat pada dua tangan dan dua kaki, telinga, mata, mulut, dan bagusnya aku hidup! Aku hidup tentu bukan kebetulan, tapi takdir Tuhan! Alllah berfirman dalam kalam-Nya “… dan Aku (Tuhan) telah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tak mengetahui suatu apa pun,…” aku terlahir sebagai manusia terpilih, begitulah menurutku. Karena kita di dunia, sejatinya dilahirkan untuk menjadi khalifah di bumi dengan segala ilmu dan amalnya

Nama dan Sebuah Asa
Menulis bukan hal baru bagiku. Tapi ‘mengemas’ tulisan adalah hal yang baru saja aku tekuni satu tahun ini. Hanya sebuah kebetulan aku jatuh cinta pada dunia tulis-menulis. Sebenarnya sudah lama aku ingin menulis. Tapi sayang, baru sekedar ‘ingin’. Pertama kali menulis tak terbayangkan aku akan membuahkan sebuah esai yang pada awalnya ragu untuk kutulis. Hanya satu yang mendorongku untuk menulis saat itu. Aku cuma ingin menyenangkan hati guru dan teman-teman, itu saja! Menulis esai membuatku sadar, betapa berharganya ilmu yang kita punya untuk orang lain. Dari menulis setidaknya kita bisa menularkan sedikit yang kita tahu pada orang-orang terdekat. Dan dari menulis kita tahu siapa diri kita, bagaimana kita menginterpretasikan suatu masalah. Dan dengan menulis maka doa yang terkandung dalam namaku akan terwujud, itu yang terpenting bagiku!
Menulis menurut seorang pemula sepertiku adalah memberikan sebuah wacana, mengangkat alam ide, dan menyalurkan jutaan kata yang tak akan habis berhenti melintas di kepalaku. Ide-ide itu ibarat penumpang kereta api yang menunggu untuk turun di sebuah stasiun. Dan stasiun yang paling disukai penumpang kereta apiku adalah lautan tinta di atas putih kertas. Mereka tahu bagaimana mereka harus berbaris membentuk kalimat, meski terkadang banyak orang yang tak paham maksud mereka. Mereka juga adalah ‘bunga’ dari pemikiran yang muncul setelah ‘memahami ilmu’ dan ingin ‘mengamalkannya’ dengan cara memberi tahu orang banyak. Inilah hubungan abstrak antara namaku dengan cita-citaku yang aku yakin akan terwujud!

Jemari di atas karpet putih
Menari tak ubahnya flamingo yang menari
Dia berjingkat,
tapi juga berputar
Sebentar diam
lalu lari mengejar kunang-kunang,
pelita yang meneranginya saat ia menari

Jemari dalam tumpahan tinta
Tak pernah lelah
Meski lebur kala hari
Merajut senja bersulam emas
Sekalipun redup kala hari
Melukis pualam langit bertinta perak
Bercerita tentang dunia…

Penghujung Oktober 2008


Lalu mengapa harus FLP? Sejak kecil aku hanya tahu FLP itu ada. Lalu? FLP adalah kumpulan penulis, itu saja! Tapi kini aku punya pandangan sendiri mengenai FLP. FLP adalah wadah yang diidam-idamkan mereka yang benar-benar tertarik untuk terjun dalam dakwah kepenulisan. Kita mengenal sejumlah nama besar dengan karya-karya best seller-nya dalam asuhan FLP. Wadah yang menjanjikan untuk mengasah bakat dan keterampilan para pemula ataupun yang sudah hebat sekalipun. Yang jelas karya-karya insan-insan FLP bisa menggugah hati masyarakat luas. Dan mungkin saja kemunculan FLP ini dikatakan sebagai revolusi kepenulisan yang akan membawa manfaat bagi bangsa kita. Tak sekedar di bidang tulis-menulis tapi juga sosbud atau bahkan politik! Semuanya mungkin terjadi jika kita menggiatkan dakwah kepenulisan untuk kemsalahatan. Jadi, tunggu apa lagi? Gapailah takwa dengan tinta!

0 comment: